Rabu, 18 Desember 2013

Untukmu, Yang Jauh di Sana


 Untukmu, yang jauh di sana. Kutulis kisah ini dari apa yang ku lihat, apa yang ku dengar, dan apa yang ku rasa. Goresan pena yang mungkin punya makna. Sajak yang tak pernah kau lihat. Syair yang tak pernah kau lagukan. Secarik surat yang tak akan pernah sampai. Sebuah pesan yang tak akan pernah kau terima.

Untukmu, yang jauh di sana. Entah harus dari mana aku memulai. Menerjemahkan suara hati menjadi rangkaian kata. Mengukir perasaan yang telah lama ada terbingkai dalam sebuah prosa, yang mungkin bagimu tak akan berarti apa-apa.

Umtukmu, yang jauh di sana. Sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, perasaan itu ada. Di dalam sini, tak ada beda. Tunggu, jangan kau tanya mengapa. Justru aku yang ingin menanyakan padamu : apa yang telah kau perbuat hingga membuatku begini? Atau aku yang terlalu lemah hingga tak mampu menepis jauh perasaan yang telah menjeratku dulu? Entahlah.

Untukmu, yang jauh di sana. Kau tahu rasanya memendam rasa? Dalam diam, aku menunggu. Dari jauh, aku memelukmu. Di setiap untaian doa, aku menyebut namamu. Aku dan kamu memang sulit untuk bertemu. Bibir kelu, seluruh tubuh menjadi kaku ketika kujumpa dirimu. Aku tak cukup berani untuk sekedar menyapa. Meski sebenarnya aku sendiri pun bertanya-tanya : sampai kapan rasa ini akan mampu bertahan?  Tahukah kamu, jika tiap hari aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek akun twittermu. Melihatmu dalam bayang semu. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Sebatas maya, tak pernah menjadi nyata. Setidaknya, sudah cukup untuk membuatku tersenyum. Cukup membuatku percaya, bahwa di sana kau baik-baik saja.

Untukmu, yang jauh di sana. Terima kasih karena telah membuatku tertawan. Terima kasih karena kamu, maka rasa ini Tuhan titipkan. Aku bersyukur, karena kamu adalah orang yang mungkin Tuhan kirimkan. Karenamu, aku melihat cinta dari sisi yang positif. Kamu tahu? Aku belajar keras saat masih di sekolah menengah hingga diterima di kampus ini, berusaha memperbaiki kualitas diri setiap hari, hanya untuk terlihat “layak” jika suatu saat nanti aku bersanding denganmu. Menutupkan jilbab di tubuhku, yang baru aku kenakan ketika di akhir semester satu. Meski sekarang ku sadari, satu hal yang harusnya aku lakukan sejak 2 tahun yang lalu : mengungkapkan rasa ini padamu.

Untukmu, yang jauh di sana. Masih teringat jelas seberkas kenangan lalu. Ketika kamu malu-malu untuk meminta berkenalan denganku, mengirimkan pesan dengan nada yang bagiku terdengar lucu. Bahkan kamu harus me-lobby temanmu untuk meminta nomor telepon genggamku, hingga mengajakku bertemu.

Untukmu, yang jauh di sana. Aku rindu. Aku rindu saat pertama kali kita bertemu. Bisakah kau mengulangnya untukku? Mengenang memori indah yang terlalu sayang jika dilupa.

Untukmu, yang jauh di sana. Kini, tak seindah dulu. Kita saling menjauh, berdiri di tepian masing-masing. Apakah memang kita tak akan bertemu? Ataukah Tuhan tak merestui kita untuk menyatu? Mungkin ini cara Tuhan : membuat kita saling menjaga hati, agar tak saling menyakiti. Dan suatu saat nanti, aku dan kamu dipertemukan kembali, menjalin rasa dalam sebuah ikatan syahdu.

Untukmu, yang jauh di sana. Selain mencintaimu dalam diam, memandangmu dari jauh, dan menyapamu dalam doa, apalagi yang bisa ku lakukan? Aku selalu berharap, semoga Tuhan bersedia mempersempit jarak di antara kita,hingga menyeret kita ke dalam sebuah titik temu. Ketika kata “aku” dan “kamu” melebur menjadi “kita”. Ketika aku dan kamu menjadi satu.

Untukmu, yang jauh di sana. Percayalah, aku masih menyimpan rasa yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar