Ketererpisahan
Apa yang kau harapkan dari hidup ini?
Kekayaan, kesuksesan, kekuasaan? Apa yang menjadi pengharapanmu di dunia yang
fana? Pernahkah kau mengharapkan cinta, sebagai sumber kebahagiaan? Hanya
berlandas cinta, tanpa mengharap apa-apa.
Kita terlalu mengagungkan cinta, tapi
terlalu apatis dalam memaknai arti cinta. Bagimu, apa arti cinta? Aku bukanlah
penyair yang kaya akan sajak-sajak penuh cinta, ataupun pujangga yang punya
banyak kata penuh daya. Aku hanyalah diriku,
orang awam yang tak tahu-menahu soal cinta. Aku memang tak ahli dalam merangkai
kata agar punya makna, namun yang aku rasa ketika mendengar kata cinta, ya,
cinta itu “kita”.
Lantas, apa yang kau harap dari cinta?
Balasan? Kepastian? Adakah darimu yang memimpikan kebersamaan? Ya, kebersamaan
dalam cinta. Ketika kita berjalan dalam satu genggaman, ketika dunia melihat
kita saling melangkah beriringan. Tunggu, apakah ada darimu yang mempersepsikan
keterpisahan? Ya, keterpisahan dalam mencinta. Berbeda dalam dimensi ruang, bak
dipisahkan sejuta sekat tiada tara. Semuanya tak sama, segalanya tak serupa.
Adakah darimu yang tersiksa dalam bingkai keterpisahan? Ataukah dirimu justru
terpatri dalam rinai kebahagiaan meski berada dalam jurang keterpisahan?
Cinta tak harus menyatu dalam ikatan
kebersamaan. Bersama tak melulu soal bahagia. Ada banyak cara untuk mencari
kebahagiaan. Salah satunya, adalah dengan mencipta keterpisahan itu sendiri.
Terpisah hanya soal jarak dan waktu. Karena sejatinya, hati tetap menyatu.
Meski raga tak mampu bersua, rasa ini akan tetap sama. Terpisah tak akan
membuatmu kehilangan. Jiwa akan tetap satu, karena selalu terikat rindu.
Tak akan ada perpisahan, bila tak diawali
dengan perjumpaan. Bila perjumpaan merupakan takdir Tuhan, maka perpisahan tak
ubahnya ukiran garis tangan. Tak kuasa ditepis, tak mampu dibendung. Perpisahan
ibarat sebuah spasi yang memberikan ruang untuk kita bernaung, tanpa
meninggalkan makna.
Hidup ini begitu indah, Tuhan telah
merancangnya dalam secarik scenario
maha sempurna. Ada yang saling mencinta dalam kebersamaan, ada yang diam-diam
merajuk penuh pilu, dan ada pula yang menjerit dalam ruang rindu.
Hidup ini sejatinya terlalu sempurna untuk
sekedar diratapi. Terkadang hidup mempunyai elegi tersendiri yang tak kau sadari.
Ibarat tuts piano yang mempunyai dua sisi –hitam dan putih-, namun ketika Tuhan
memainkannya, semuanya akan menjadi indah. Akan tercipta sebuah lagu yang
syahdu. Alunan melodi bertabur cinta, lagi menawan. Kalau sudah begitu, masih
ingin mengutuk dan merutuk nikmat Tuhan yang luar biasa ini? Ingatlah, bahwa
tak ada satu pun nikmat Tuhan yang mampu kau dustakan.
Hiduplah dalam kedamaian yang sudah Tuhan
ciptakan, meski kau terjebak dalam keterpisahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar