Senin, 23 Desember 2013

Keterpisahan



Ketererpisahan

Apa yang kau harapkan dari hidup ini? Kekayaan, kesuksesan, kekuasaan? Apa yang menjadi pengharapanmu di dunia yang fana? Pernahkah kau mengharapkan cinta, sebagai sumber kebahagiaan? Hanya berlandas cinta, tanpa mengharap apa-apa.

Kita terlalu mengagungkan cinta, tapi terlalu apatis dalam memaknai arti cinta. Bagimu, apa arti cinta? Aku bukanlah penyair yang kaya akan sajak-sajak penuh cinta, ataupun pujangga yang punya banyak kata penuh daya. Aku hanyalah diriku, orang awam yang tak tahu-menahu soal cinta. Aku memang tak ahli dalam merangkai kata agar punya makna, namun yang aku rasa ketika mendengar kata cinta, ya, cinta itu “kita”.

Lantas, apa yang kau harap dari cinta? Balasan? Kepastian? Adakah darimu yang memimpikan kebersamaan? Ya, kebersamaan dalam cinta. Ketika kita berjalan dalam satu genggaman, ketika dunia melihat kita saling melangkah beriringan. Tunggu, apakah ada darimu yang mempersepsikan keterpisahan? Ya, keterpisahan dalam mencinta. Berbeda dalam dimensi ruang, bak dipisahkan sejuta sekat tiada tara. Semuanya tak sama, segalanya tak serupa. Adakah darimu yang tersiksa dalam bingkai keterpisahan? Ataukah dirimu justru terpatri dalam rinai kebahagiaan meski berada dalam jurang keterpisahan?

Cinta tak harus menyatu dalam ikatan kebersamaan. Bersama tak melulu soal bahagia. Ada banyak cara untuk mencari kebahagiaan. Salah satunya, adalah dengan mencipta keterpisahan itu sendiri. Terpisah hanya soal jarak dan waktu. Karena sejatinya, hati tetap menyatu. Meski raga tak mampu bersua, rasa ini akan tetap sama. Terpisah tak akan membuatmu kehilangan. Jiwa akan tetap satu, karena selalu terikat rindu.
Tak akan ada perpisahan, bila tak diawali dengan perjumpaan. Bila perjumpaan merupakan takdir Tuhan, maka perpisahan tak ubahnya ukiran garis tangan. Tak kuasa ditepis, tak mampu dibendung. Perpisahan ibarat sebuah spasi yang memberikan ruang untuk kita bernaung, tanpa meninggalkan makna.

Hidup ini begitu indah, Tuhan telah merancangnya dalam secarik scenario maha sempurna. Ada yang saling mencinta dalam kebersamaan, ada yang diam-diam merajuk penuh pilu, dan ada pula yang menjerit dalam ruang rindu.

Hidup ini sejatinya terlalu sempurna untuk sekedar diratapi. Terkadang hidup mempunyai elegi tersendiri yang tak kau sadari. Ibarat tuts piano yang mempunyai dua sisi –hitam dan putih-, namun ketika Tuhan memainkannya, semuanya akan menjadi indah. Akan tercipta sebuah lagu yang syahdu. Alunan melodi bertabur cinta, lagi menawan. Kalau sudah begitu, masih ingin mengutuk dan merutuk nikmat Tuhan yang luar biasa ini? Ingatlah, bahwa tak ada satu pun nikmat Tuhan yang mampu kau dustakan.

Hiduplah dalam kedamaian yang sudah Tuhan ciptakan, meski kau terjebak dalam keterpisahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar