Untukmu, yang jauh
di sana. Kutulis kisah ini dari apa yang ku lihat, apa yang ku dengar, dan apa
yang ku rasa. Goresan pena yang mungkin punya makna. Sajak yang tak pernah kau
lihat. Syair yang tak pernah kau lagukan. Secarik surat yang tak akan pernah
sampai. Sebuah pesan yang tak akan pernah kau terima.
Untukmu, yang jauh
di sana. Entah harus dari mana aku memulai. Menerjemahkan suara hati menjadi rangkaian
kata. Mengukir perasaan yang telah lama ada terbingkai dalam sebuah prosa, yang
mungkin bagimu tak akan berarti apa-apa.
Umtukmu, yang jauh
di sana. Sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, perasaan itu ada. Di dalam sini,
tak ada beda. Tunggu, jangan kau tanya mengapa. Justru aku yang ingin
menanyakan padamu : apa yang telah kau
perbuat hingga membuatku begini? Atau aku yang terlalu lemah hingga tak
mampu menepis jauh perasaan yang telah menjeratku dulu? Entahlah.
Untukmu, yang jauh
di sana. Kau tahu rasanya memendam rasa? Dalam diam, aku menunggu. Dari jauh,
aku memelukmu. Di setiap untaian doa, aku menyebut namamu. Aku dan kamu memang
sulit untuk bertemu. Bibir kelu, seluruh tubuh menjadi kaku ketika kujumpa
dirimu. Aku tak cukup berani untuk sekedar menyapa. Meski sebenarnya aku
sendiri pun bertanya-tanya : sampai kapan
rasa ini akan mampu bertahan?
Tahukah kamu, jika tiap hari aku selalu menyempatkan diri untuk mengecek
akun twittermu. Melihatmu dalam bayang
semu. Hanya itu yang bisa ku lakukan. Sebatas maya, tak pernah menjadi nyata.
Setidaknya, sudah cukup untuk membuatku tersenyum. Cukup membuatku percaya,
bahwa di sana kau baik-baik saja.
Untukmu, yang jauh
di sana. Terima kasih karena telah membuatku tertawan. Terima kasih karena kamu,
maka rasa ini Tuhan titipkan. Aku bersyukur, karena kamu adalah orang yang mungkin Tuhan kirimkan. Karenamu, aku
melihat cinta dari sisi yang positif. Kamu tahu? Aku belajar keras saat masih
di sekolah menengah hingga diterima di kampus ini, berusaha memperbaiki
kualitas diri setiap hari, hanya untuk terlihat “layak” jika suatu saat nanti aku
bersanding denganmu. Menutupkan jilbab di tubuhku, yang baru aku kenakan ketika
di akhir semester satu. Meski sekarang ku sadari, satu hal yang harusnya aku
lakukan sejak 2 tahun yang lalu : mengungkapkan
rasa ini padamu.
Untukmu, yang jauh
di sana. Masih teringat jelas seberkas kenangan lalu. Ketika kamu malu-malu
untuk meminta berkenalan denganku, mengirimkan pesan dengan nada yang bagiku
terdengar lucu. Bahkan kamu harus me-lobby
temanmu untuk meminta nomor telepon genggamku, hingga mengajakku bertemu.
Untukmu, yang jauh
di sana. Aku rindu. Aku rindu saat pertama kali kita bertemu. Bisakah kau
mengulangnya untukku? Mengenang memori indah yang terlalu sayang jika dilupa.
Untukmu, yang jauh
di sana. Kini, tak seindah dulu. Kita saling menjauh, berdiri di tepian
masing-masing. Apakah memang kita tak akan bertemu? Ataukah Tuhan tak merestui
kita untuk menyatu? Mungkin ini cara Tuhan : membuat kita saling menjaga hati,
agar tak saling menyakiti. Dan suatu saat nanti, aku dan kamu dipertemukan
kembali, menjalin rasa dalam sebuah ikatan syahdu.
Untukmu, yang jauh
di sana. Selain mencintaimu dalam diam, memandangmu dari jauh, dan menyapamu
dalam doa, apalagi yang bisa ku lakukan? Aku selalu berharap, semoga Tuhan
bersedia mempersempit jarak di antara kita,hingga menyeret kita ke dalam sebuah
titik temu. Ketika kata “aku” dan “kamu” melebur menjadi “kita”. Ketika aku dan
kamu menjadi satu.
Untukmu, yang jauh
di sana. Percayalah, aku masih menyimpan rasa yang sama.