Untuk Sahabatku,
Mutiara Laillia
Sudah hampir satu tahun
lamanya kita tidak bertemu. Tak saling bersua, tak saling menyapa meski dalam
doa. Terpisah jarak yang kini membuatku kian menyiksa.
Hai sahabatku, apa
kabar? Mendengar namamu menyiratkanku pada seberkas kenangan lalu. Saat kita
masih lugu dengan raut wajah malu-malu, sembari mengenakan seragam putih
abu-abu. Waktu begitu cepat berlalu. Kini aku dan kamu kian sulit untuk
bertemu. Entah kapan lagi Tuhan mengizinkan kita untuk saling melepas rindu.
Kau di sana, tengah
meniti jutaan asa untuk jadi nyata. Aku di sini, sibuk merajut ribuan mimpi
untuk jadi abadi. Apakah ini yang disebut egoisme?
Ketika masing-masing dari kita bersikeras untuk menentukan jalan hidup yang
akan kita tempuh, meski menimbulkan konsekuensi besar : kebersamaan tak
menyertai kita.
Untuk Mutiara Laillia,
sahabatku. Satu-satunya orang yang menopangku ketika aku terjatuh. Layaknya
seorang ibu saat melatih puteri kecilnya berjalan. Satu-satunya orang yang
mengulurkan tangan ketika aku butuh pertolongan. Satu-satunya orang yang merelakan
bahunya untuk kujadikan tempat bersandar. Satu-satunya orang yang memberiku
suntikan semangat di kala aku terpuruk. Bak sejumput oase di tengah keringnya
gurun. Satu-satunya orang yang percaya bahwa aku mampu, saat tak ada lagi orang
yang mempercayaiku.
Untukmu, sahabatku.
Semoga kau tahu bahwa di sini aku begitu menyayangi dan merindukanmu.
Terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku. Tak ku temui lagi sosok sepertimu.
Dan ketika ku tahu itu, ku sadari bahwa begitu berartinya kamu, dan semua waktu
yang telah kita lalui.
Berjanjilah, temui aku
dan ceritakan kisah suksesmu. Tentu saja, aku juga tak ingin kalah darimu.
Ketika nanti Tuhan mengizinkan kita untuk bertemu, di situ lah aku dan kamu
bertukar kisah tentang cita yang telah diraih. Saling menuturkan cerita saat
semua asa telah kita gapai bersama. Saat aku dan kamu mengukir sejarah dalam
rinai kebahagiaan, karena telah menorehkan seutas senyum di wajah Ayah-Ibu
kita.
Terimakasih, telah
menginspirasiku selama ini, kini dan nanti.
Sahabat yang tengah
merindu,
Intan Dewiyanti
(ku tulis di kala langit sore tengah menjingga di cakrawala)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar