Rabu, 26 Februari 2014

Tentang Kata Romantis



Aku bukan orang yang romantis. Bukan pula pujangga yang puitis. Apalagi seniman yang mencipta karya estetis.

Aku suka romantis. Bagiku, bisa berpadu dengan apapun yang kita cintai, memiliki romantisme tersendiri.
Romantis selalu punya cara untuk menyentuh. Ia punya ruh yang mudah merasuk. Romantis selalu bisa mengubah hal sederhana menjadi istimewa. Ia melihat dari sudut pandang berbeda, membuat segala yang bernilai biasa menjadi lebih bermakna. Romantis selalu mampu merayu. Ia menyingkap keindahan agar senantiasa memancar.

Romantis. Saat aku dan kamu dipertemukan oleh waktu.
Romantis. Ketika dua insan saling membagi rasa.
Romantis. Apabila Tuhan memilih kita untuk menyatu.
Romantis. Jika kita meniti langkah bersama menghadapi segalanya.
Romantis. Seandainya kamu adalah jawaban dari setiap doaku.

Minggu, 23 Februari 2014

Sebuah Pilihan



Sebuah pilihan, berharap bermuara pada kebahagiaan. Tak mengharap berujung  pada penyesalan

Hidup memang mengharuskan kita untuk memilih. Memilih melangkah maju, atau bergerak mundur. Memilih berlari, atau berjalan perlahan. Memilih melakukan perubahan, atau tidak sama sekali. Memilih menjadi yang terbaik, atau terbuang percuma.

Memilih memang sulit. Menjatuhkan kebulatan hati pada satu pilihan memang tak mudah. Andai diberi kekuatan oleh Tuhan, ingin rasanya diri ini  mampu melihat apa-apa yang akan terjadi di masa depan. Ingin rasanya mampu membaca isyarat yang datang kemudian.

Sejatinya, yang tersulit bukanlah memilih. Melainkan bertahan pada pilihan. Seperti diriku yang diharuskan untuk memilih: bertahan atau pergi. Entah jalan mana yang harus ku tempuh: bertahan pada rasa ini, atau pergi dengan membuang segala yang masih berbekas. Semua tentangmu yang masih terikat kuat. Seluruh kenangan yang sampai saat ini masih tersimpan rapi.

Mungkin aku bodoh, tak bisa mempergunakan logika. Mungkin aku salah, menjatuhkan hati padamu, yang tak pernah kembali.

Tapi, bagi sebagian orang, termasuk kamu yang tengah membaca kisah pilu ini, sependapat dengan pernyataan klasik: “Hati tak pernah salah dalam memilih”. Mungkin ada benarnya, karena di antara kamu, banyak yang menuai kebahagiaan, meski berada dalam keputusan yang salah. Sekalipun mengambil pilihan yang bertentangan dengan logika, tak bisa diterima dengan akal sehat.

Dan akhirnya, aku membuat pernyataan sendiri: “Logika memang tahu bagaimana cara berpikir, tapi hati jauh lebih tahu bagaimana cara memilih”. Entah harus kupercayai atau tidak.

Senin, 03 Februari 2014

Ingin Bicara




Pertama, aku bingung harus memulai dari mana. Meski sejatinya terlalu banyak maksud yang ingin ku utarakan. Terlampau banyak hal yang sungguh mengusik pikiran.

Kedua, aku bingung harus bersikap bagaimana. Kalau berjumpa denganmu saja, seluruh tubuhku menjadi kaku. Kedua bola mata ini bahkan tak kuasa memandangmu. Jiwa ini teramat sendu, karena sudah lama menyimpan rindu.

Ketiga, aku bingung akan berkata apa. Kalau menyapamu dalam batas maya saja tak berani, apalagi dalam bingkai yang nyata. Cukup menyapa, menanyakan kabar, dan sekedar menyebut nama. Aku tak sanggup. Meski semudah dan sesederhana itu.

Terakhir, aku memang pengecut. Sebut saja begitu. Kalau di belakang, aku begitu ingin bertemu. Kalau di depan dan kujumpa dirimu, aku tak mampu. Seakan tak pernah siap jika dihadapkan padamu. Seperti takut bila harus menatap dirimu.

Agaknya Tuhan telah mencabut urat di seluruh tubuh, hingga bibir ini tak mampu berkata. Rasanya Tuhan telah melumpuhkan kemampuan indera ini, yang sangat ingin bicara.

Penyadaran



Bertemu. Berpisah. Bertemu. Berpisah lagi. Bertemu. Kembali berpisah. Begitu terus. Tuhan, aku lelah. Mengapa Kau tak bisa menciptakan kebersamaan abadi?

Pertemuan dan perpisahan. Ibarat seremoni yang mutlak dijalani. Jika pertemuan adalah sebuah pembuka, perpisahan tak lain sebagai penutup. Kau mungkin lupa, ada sebentuk moment indah yang tak hanya ilusi. Sebuah kenangan manis yang turut menyertai. 

Ada kebersamaan yang tersembunyi di dalamnya. Kebersamaan yang mungkin tak terlihat, meski sejatinya ada. Kebersamaan yang aku dan kamu rasakan, walau tanpa pengakuan. Kebersamaan yang (tak sempat) jadi abadi.

Pertemuan dan perpisahan. Kau tahu? Ada seberkas anugerah yang tak luput dilimpahkan. Ada sejumput bahagia yang terselip di antara keduanya. Mungkin Tuhan sedang memberikan penyadaran. Agar kita tak terlalu berharap pada kata “bertemu”. Agar kita tak lupa ada kata “berpisah” yang selalu tiba. Pada akhirnya, dunia akan berkata bahwa perpisahan diciptakan agar kita menghargai pertemuan. Juga kebersamaan, yang disertakan untuk membersamai jiwa-jiwa yang kesepian.