“The best love is when you find
someone who makes your Imaan rise, who makes you more pious and who helps you
here in the dunya because that person wants to meet you again in Jannah.” –
Anonymous
--Rangkaian
kata-kata di atas (mungkin) telah dirasakan oleh jutaan insan di dunia, tak
terkecuali aku--
Hallo,
Ikhwan. Namamu adalah panggilan
paling romantis di dunia.
Aku
tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Tetiba saja. Tak pernah direncana.
Tak bisa diterka. Satu-satunya hal yang bisa menjadi alasan adalah karena lebih
dari satu bulan terkahir, hampir setiap hari, aku dan kamu dipertemukan dalam
sebuah kesempatan. Kali ini, izinkan aku untuk menyapamu dengan sebutan “Ikhwan” dalam tulisanku. Karena tidak
mungkin aku menulis nama aslimu di sini, hehe.
Kecuali jika aku menginginkan seisi dunia tahu.
Hallo,
Ikhwan. Kamu yang selalu tersenyum
meski dunia sedang tidak berpihak padamu.
Aku
tahu, saat itu kamu sedang mengemban amanah yang cukup besar. Aku tahu, tidak
mudah rasanya menanggung tanggungjawab sebesar itu. Sangat menyita waktu,
pikiran, dan tenaga. Pernah sekali aku melihatmu memimpin rapat evaluasi. Kamu
berdoa sambil menitikkan air mata. Aku memperhatikanmu, ada semburat bahagia di
wajahmu, meski tertutup oleh tangis. Aku tahu, saat itu beban yang ada di
pundakmu telah lepas.
Aku
tidak peduli bahwa kamu adalah adik angkatan di bawahku, toh nyatanya aku lebih
banyak belajar darimu. Aku tidak lagi berpikir bahwa kamu satu tahun lebih muda
dariku, toh nyatanya kamu lebih bersikap dewasa&bijaksana dibandingkan aku.
Hallo,
Ikhwan. Kamu memiliki inisial yang
sama denganku.
Mungkin
kamu tidak akan pernah tahu. Berkat kamu, aku merasa lebih dekat dengan Sang
Pencipta. Sejak memperhatikanmu, aku merasa bersalah jika tidak segera medirikan
shalat ketika adzan berkumandang. Aku merasa berdosa ketika aku membiarkan
Al-Qur’an tanpa membacanya meski satu ruku’ setiap ba’da shalat. Aku menyesal
ketika melewatkan sepertiga malam terakhir untuk bersujud dan sahur. Aku merasa
hariku terbuang percuma ketika aku tidak jadi menjalankan puasa. Coba jelaskan
padaku, apakah ini yang disebut mencintai karena Allah?
Hallo,
Ikhwan. Kamu sangat mirip dengan
ayahku.
Entah
ini hanya sekedar kebetulan atau tidak. Aku pernah belajar psikologi di tahun
keduaku kuliah, dan saat itu dosenku berkata bahwa anak perempuan cenderung
untuk mencari laki-laki yang mirip dengan ayahnya, entah dari sifat maupun
fisik. Mungkin, teori tersebut ada benarnya. Setiap kali aku menatapmu, aku
melihat wajah ayahku di sana. Tunggu, terlalu berlebihan memang, mana mungkin
wajah ayahku mirip denganmu. Tetapi, ada kenyamanan ketika melihatmu dan
mendengarkanmu bicara. Pembawaan diri dan gaya bicaramu terlihat sama dengan
ayahku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, yang aku tahu dan aku rasa,
aku seperti sedang bersama ayahku ketika berada dekat denganmu. Mungkin 2 hal
ini yang membuatmu begitu mirip dengan ayahku: religius dan tidak banyak
bicara.
Hallo,
Ikhwan. Kamu yang religius dan tidak
banyak bicara.
Memiliki
kepribadian yang luar biasa, aku yakin kedua orangtuamu sangat hebat. Entah
cara apa yang digunakan untuk mendidik dan membesarkanmu di rumah. Aku juga
dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang yang tak kalah religius.
Orangtuaku menekankan untuk jangan pernah melalaikan shalat dan mengaji. Berkat
kesabaran ayahku, aku sudah lancar membaca Al-Qur’an ketika berusia 7 tahun, di
saat teman-temanku baru saja belajar Iqro. Pada usia 8 tahun, aku khatam
Al-Qur’an untuk pertama kali, ketika anak-anak seusiaku baru saja mulai
menghafal surat Juz Amma. Tetapi tentu saja, aku masih harus belajar darimu. Dibandingkan
denganmu, aku layaknya butiran debu. Seperti slogan yang tengah melejit saat
ini: Da aku mah apa atuh?
Hallo,
Ikhwan. Kamu yang selalu sibuk dan
tidak punya waktu.
Meski
saat ini aku jarang melihatmu atau sekedar bertemu, di setiap ba’da shalat aku
selalu menyebut namamu. Semoga Tuhan berkenan menyampaikan rasa yang kutitipkan
lewat doa. Semoga di sela-sela waktu dan kesibukanmu, kamu bersedia
menyempatkan diri untuk membaca ini. Aku hanya ingin berterima kasih, karena
dengan mengenalmu, membuatku melangkah untuk mendekati Tuhan. Terima kasih,
sudah mengubahku sejauh ini, tanpa kamu sadari. Semoga Tuhan selalu menyertai
setiap langkah kecilmu. Amin.
Hallo,
Ikhwan. Semoga kamu menjadi imam masa
depanku.
Aku
ingin, di setiap aku bertemu dengan Sang Kuasa, aku berada satu shaf di
belakangmu.
Anna uhibukki fillah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar