Minggu, 09 November 2014

Hallo, Ikhwan





“The best love is when you find someone who makes your Imaan rise, who makes you more pious and who helps you here in the dunya because that person wants to meet you again in Jannah.” – Anonymous

--Rangkaian kata-kata di atas (mungkin) telah dirasakan oleh jutaan insan di dunia, tak terkecuali aku--

Hallo, Ikhwan. Namamu adalah panggilan paling romantis di dunia.
Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini muncul. Tetiba saja. Tak pernah direncana. Tak bisa diterka. Satu-satunya hal yang bisa menjadi alasan adalah karena lebih dari satu bulan terkahir, hampir setiap hari, aku dan kamu dipertemukan dalam sebuah kesempatan. Kali ini, izinkan aku untuk menyapamu dengan sebutan “Ikhwan” dalam tulisanku. Karena tidak mungkin aku menulis nama aslimu di sini, hehe. Kecuali jika aku menginginkan seisi dunia tahu.

Hallo, Ikhwan. Kamu yang selalu tersenyum meski dunia sedang tidak berpihak padamu.
Aku tahu, saat itu kamu sedang mengemban amanah yang cukup besar. Aku tahu, tidak mudah rasanya menanggung tanggungjawab sebesar itu. Sangat menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Pernah sekali aku melihatmu memimpin rapat evaluasi. Kamu berdoa sambil menitikkan air mata. Aku memperhatikanmu, ada semburat bahagia di wajahmu, meski tertutup oleh tangis. Aku tahu, saat itu beban yang ada di pundakmu telah lepas.
Aku tidak peduli bahwa kamu adalah adik angkatan di bawahku, toh nyatanya aku lebih banyak belajar darimu. Aku tidak lagi berpikir bahwa kamu satu tahun lebih muda dariku, toh nyatanya kamu lebih bersikap dewasa&bijaksana dibandingkan aku.

Hallo, Ikhwan. Kamu memiliki inisial yang sama denganku.
Mungkin kamu tidak akan pernah tahu. Berkat kamu, aku merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Sejak memperhatikanmu, aku merasa bersalah jika tidak segera medirikan shalat ketika adzan berkumandang. Aku merasa berdosa ketika aku membiarkan Al-Qur’an tanpa membacanya meski satu ruku’ setiap ba’da shalat. Aku menyesal ketika melewatkan sepertiga malam terakhir untuk bersujud dan sahur. Aku merasa hariku terbuang percuma ketika aku tidak jadi menjalankan puasa. Coba jelaskan padaku, apakah ini yang disebut mencintai karena Allah?

Hallo, Ikhwan. Kamu sangat mirip dengan ayahku.
Entah ini hanya sekedar kebetulan atau tidak. Aku pernah belajar psikologi di tahun keduaku kuliah, dan saat itu dosenku berkata bahwa anak perempuan cenderung untuk mencari laki-laki yang mirip dengan ayahnya, entah dari sifat maupun fisik. Mungkin, teori tersebut ada benarnya. Setiap kali aku menatapmu, aku melihat wajah ayahku di sana. Tunggu, terlalu berlebihan memang, mana mungkin wajah ayahku mirip denganmu. Tetapi, ada kenyamanan ketika melihatmu dan mendengarkanmu bicara. Pembawaan diri dan gaya bicaramu terlihat sama dengan ayahku. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, yang aku tahu dan aku rasa, aku seperti sedang bersama ayahku ketika berada dekat denganmu. Mungkin 2 hal ini yang membuatmu begitu mirip dengan ayahku: religius dan tidak banyak bicara.

Hallo, Ikhwan. Kamu yang religius dan tidak banyak bicara.
Memiliki kepribadian yang luar biasa, aku yakin kedua orangtuamu sangat hebat. Entah cara apa yang digunakan untuk mendidik dan membesarkanmu di rumah. Aku juga dibesarkan dari keluarga dengan latar belakang yang tak kalah religius. Orangtuaku menekankan untuk jangan pernah melalaikan shalat dan mengaji. Berkat kesabaran ayahku, aku sudah lancar membaca Al-Qur’an ketika berusia 7 tahun, di saat teman-temanku baru saja belajar Iqro. Pada usia 8 tahun, aku khatam Al-Qur’an untuk pertama kali, ketika anak-anak seusiaku baru saja mulai menghafal surat Juz Amma. Tetapi tentu saja, aku masih harus belajar darimu. Dibandingkan denganmu, aku layaknya butiran debu. Seperti slogan yang tengah melejit saat ini: Da aku mah apa atuh?

Hallo, Ikhwan. Kamu yang selalu sibuk dan tidak punya waktu.
Meski saat ini aku jarang melihatmu atau sekedar bertemu, di setiap ba’da shalat aku selalu menyebut namamu. Semoga Tuhan berkenan menyampaikan rasa yang kutitipkan lewat doa. Semoga di sela-sela waktu dan kesibukanmu, kamu bersedia menyempatkan diri untuk membaca ini. Aku hanya ingin berterima kasih, karena dengan mengenalmu, membuatku melangkah untuk mendekati Tuhan. Terima kasih, sudah mengubahku sejauh ini, tanpa kamu sadari. Semoga Tuhan selalu menyertai setiap langkah kecilmu. Amin.

Hallo, Ikhwan. Semoga kamu menjadi imam masa depanku.
Aku ingin, di setiap aku bertemu dengan Sang Kuasa, aku berada satu shaf di belakangmu.
Anna uhibukki fillah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar