“Mah
lagi apa?”
“Habis
nyetrika. Intan lagi apa? Tan sekarang udah ngekos ya? Hati2 ya jaga diri baik2
ya belajar masak nasi. Di kamar yang rapi biar disenangi teman-teman, rendah
hati.”
Siang itu, di
penghujung tahun. Handphone-ku membunyikan
alunan nada sederhana. Pertanda sebuah pesan singkat datang yang lantas
membuatku terhenyak. Sekilas ku lihat siapa sang pengirim pesan, sepintas kubuka
secara perlahan, dan tetiba saja bibirku meretas senyuman. Pesan itu datang
dari seseorang yang begitu aku rindukan. Seseorang yang tutur katanya begitu
lembut menyejukkan hati: Ibu –meski terkadang aku memanggilnya Mamah-.
Sudah lama ya Mah, kita
tak tinggal serumah. Waktu begitu tega memisahkan kita. Jarak yang membentang
begitu kejam menyiksa. Betapa sulit bagiku untuk mencuri waktu pulang di tengah
kesibukanku. Walau hanya untuk mengatakan aku
rindu padamu. Meski hanya ingin melihat raut wajahmu. Betapa tubuh ini
ingin merasakan hangat pelukanmu. Sebentar saja, tak akan lama.
Ibu, puterimu ini
agaknya sudah beranjak dewasa. Perlahan-lahan mengerti bagaimana caranya
mencuci baju, menanak nasi, menyeduh teh –yang dulu semuanya dilakukan olehmu-.
Apakah Kau bangga padaku sekarang? Lihat, perubahan yang terjadi padaku. Aku
sudah mandiri. Mempersiapkan segalanya sendiri, mengurus semua perlengkapanku,
sampai membeli obat ketika aku jatuh sakit. Semuanya aku lakukan sendiri,
tanpamu. Ya, sendiri tanpamu.
Ibu, aku rindu. Aku
rindu segala macam bentuk perhatianmu. Aku rindu saat Kau membuatkanku segelas
susu setiap malam, saat Kau membersihkan telingaku sembari aku tidur di
pangkuanmu, saat Kau menyuapiku ketika aku hanya bisa terbaring kaku. Aku rindu
saat Kau sengaja membuatkan masakan kesukaanku ketika aku memperoleh nilai
tinggi di sekolah, atau ketika Kau memanjatkan Surah Yasin seusai shalat fardhu
untukku di malam menjelang ujian. Bahkan aku juga begitu merindukan saat Kau
memarahiku karena lupa merapikan kamar, atau lalai menaruh barang secara
sembarang. Teringat jelas ketika Kau menghubungiku hanya karena ingin tahu:
sudah seberapa panjang rambutku. Terdengar lucu, tapi ini yang selalu ku
tunggu. Perhatian pada hal kecil sebagai tanda bahwa Kau teramat menyayangiku.
Ibu, aku tahu betapa
khawatirnya dirimu ketika ku putuskan untuk melanjutkan mimpiku di sini. Aku tahu
bahwa Kau menitikkan air mata saat aku berpamitan padamu. Aku tahu bahwa Kau menangis
hingga tengah malam di hari pertama aku meninggalkan rumah. Meninggalkanmu, dan
jutaan kenangan indah yang telah terukir selama 18 tahun.
Ibu, tenang saja. Tak
usah kau risaukan keberadaanku di sini. Meski Kau tak mampu melihatku,
mendekapku, dan mengawasiku seperti dulu. Selalu ada Tuhan yang melindungiku,
meniti setiap langkahku, dan memudahkan semua jalanku. Aku sudah mampu
membedakan mana yang baik untukku dan mana yang harusnya aku hindari. Aku tahu
batasan-batasan dalam bergaul –yang dulu selalu Kau katakan-. Sampai saat ini
pun aku masih belum berani melanggar perintahmu: untuk tidak menjalin hubungan dengan teman laki-laki. Tenang saja,
aku paham bagaimana cara menjaga diri.
Ibu, semoga Kau
baik-baik saja di sana. Terima kasih untuk segalanya. Untuk kasih sayang yang
begitu luar biasa. Untuk perhatian yang begitu sempurna. Terima kasih, sudah
ikhlas mencintaiku: saat Kau belum mengetahui rupaku, saat aku masih satu raga
denganmu. Ibu, maaf tak bisa di sisimu saat Kau merayakan hari istimewamu.
Sebulan lalu, saat Kau berulang tahun ke-38.
Ibu, aku titipkan rasa
rindu ini pada Tuhan. Lewat setiap untaian doa yang kuucap. Kuselipkan namamu
di antara waktu ba’da shalat. Katakan padaku kalau rindu ini sudah sampai.
Puteri kecilmu,
Intan Dewiyanti
(ku tulis agar Kau tahu betapa aku merindumu)