Senin, 03 Februari 2014

Tanya Jawab



Kalau dulu, kau bertanya: Mengapa kamu belum bisa melupakannya?
Jawabannya: Karena ada berkas cinta yang masih tertinggal.

Kalau dulu, kau bertanya: Mengapa kamu terus berkata “tidak” padaku?
Jawabannya: Karena aku masih belum bisa berkata “iya” padamu.

Saat itu, kau bertanya: Apakah kamu tak bisa membuka hati untukku?
Jawabannya: Suatu saat nanti, ketika waktu telah berpihak.

Akhirnya, kau bertanya: Apakah kamu benar-benar menerimaku?
Jawabannya: Aku telah menyerah. Kini tak ada lagi alasan untuk mengatakan “tidak” padamu. Kau sendiri yang membuatku tersadar bahwa orang yang semestinya aku perjuangkan adalah dirimu.

Sekarang, aku bertanya: Mengapa Tuhan mengizinkan kita untuk menyatu?
Jawabannya: Karena Tuhan memberi restu sejak kita pertama bertemu, Tuhan tahu bahwa kita saling merindu, hingga akhirnya menautkan kita pada sebuah ikatan syahdu.

Aku



Aku. Tersadar betapa berharganya dirimu ketika kau tak di sisi. Mengharap hadirmu dalam sepi.

Aku. Tanpa kau tahu diam-diam menyebut namamu dalam doaku. Begitu merindu hingga ku jadikan Tuhan sebagai tempat mengadu.

Aku. Tak mampu melepasmu dari ingatanku. Tak kuasa menghempas segala memori indah yang telah lama terpaku.

Aku. Selalu menahan sakit tiap kali mengingatmu. Merutuki kebodohanku yang mengingkari kata hati.

Aku. Telah menjatuhkan hati padamu sejak pertama bertemu, dua tahun lalu.

Jumat, 24 Januari 2014

Selamat Pagi



Selamat pagi untuk jiwa-jiwa yang sepi.
Selamat pagi untukdiri yang dirundung ironi.
Selamat pagi untuk rindu yang terus menderu.
Selamat pagi untuk hati yang tak ikhlas dalam melepas.

Selamat pagi untuk waktu yang tak bisa berkompromi.
Selamat pagi untuk kenangan yang masih terbayang.
Selamat pagi untuk cinta yang tak mampu terucap.
Selamat pagi untuk harapan yang lama mengendap.

Selamat pagi untuk kamu, sebuah jiwa yang (sempat) terlewatkan.

Kamis, 02 Januari 2014

Melewatkanmu



Hidup ini terlalu indah.  Lihatlah ke depan, betapa anugerah Tuhan begitu luas membentang. Tataplah ke dalam dirimu, betapa kau punya maha daya untuk menggenggam dunia. Sungguh nikmat Tuhan yang dipancarkan begitu menawan. Entah apalagi suratan Tuhan yang akan Ia tuliskan. Tuhan sepertinya tengah sibuk merancang sebuah pesan istimewa yang Ia selipkan dalam tiap rencana-Nya.

Aku tak pernah menyesali apa-apa yang sudah tertulis dalam Lauhul Mahfudz-ku. Aku memang tak bisa memilih: aku dilahirkan dari siapa, aku menjalani hidup di mana, aku akan bertemu siapa, atau aku akan meninggalkan siapa.

Ketika kujumpa dirimu, apakah ini juga suratan takdir Tuhan? Atau hanya sebuah kebetulan? Sebersit kenyataan yang akan sirna, tak akan bertahan lama. Dan jika akhirnya aku jatuh hati  padamu, kepada siapa rasa ini harus dipertanggungjawabkan? Aku-yang begitu mudahnya memberi rasa-, atau dirimu –yang membutakan mata juga hati-, ataukah takdir Tuhan yang telah merancang perjumpaan kita meski sesaat?

Kalau mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka kesalahan ini adalah kesalahan terindah.
Kalau menjatuhkan hati padamu adalah dosa, maka dosa ini adalah dosa yang tak akan pernah ku sesali.
Kalau aku tak mampu melupakanmu hingga detik ini, maka aku sudah terlalu mencintaimu.
Kalau aku menyesali kepergianmu, maka aku begitu merindumu dan memintamu untuk kembali.

Mungkin ini salahku, yang tak sempat mengikatmu. Melewatkanmu begitu saja bagai angin lalu.

Ibu, Aku Rindu



“Mah lagi apa?”

“Habis nyetrika. Intan lagi apa? Tan sekarang udah ngekos ya? Hati2 ya jaga diri baik2 ya belajar masak nasi. Di kamar yang rapi biar disenangi teman-teman, rendah hati.”

Siang itu, di penghujung tahun. Handphone-ku membunyikan alunan nada sederhana. Pertanda sebuah pesan singkat datang yang lantas membuatku terhenyak. Sekilas ku lihat siapa sang pengirim pesan, sepintas kubuka secara perlahan, dan tetiba saja bibirku meretas senyuman. Pesan itu datang dari seseorang yang begitu aku rindukan. Seseorang yang tutur katanya begitu lembut menyejukkan hati: Ibu –meski terkadang aku memanggilnya Mamah-.

Sudah lama ya Mah, kita tak tinggal serumah. Waktu begitu tega memisahkan kita. Jarak yang membentang begitu kejam menyiksa. Betapa sulit bagiku untuk mencuri waktu pulang di tengah kesibukanku. Walau hanya untuk mengatakan aku rindu padamu. Meski hanya ingin melihat raut wajahmu. Betapa tubuh ini ingin merasakan hangat pelukanmu. Sebentar saja, tak akan lama.

Ibu, puterimu ini agaknya sudah beranjak dewasa. Perlahan-lahan mengerti bagaimana caranya mencuci baju, menanak nasi, menyeduh teh –yang dulu semuanya dilakukan olehmu-. Apakah Kau bangga padaku sekarang? Lihat, perubahan yang terjadi padaku. Aku sudah mandiri. Mempersiapkan segalanya sendiri, mengurus semua perlengkapanku, sampai membeli obat ketika aku jatuh sakit. Semuanya aku lakukan sendiri, tanpamu. Ya, sendiri tanpamu.

Ibu, aku rindu. Aku rindu segala macam bentuk perhatianmu. Aku rindu saat Kau membuatkanku segelas susu setiap malam, saat Kau membersihkan telingaku sembari aku tidur di pangkuanmu, saat Kau menyuapiku ketika aku hanya bisa terbaring kaku. Aku rindu saat Kau sengaja membuatkan masakan kesukaanku ketika aku memperoleh nilai tinggi di sekolah, atau ketika Kau memanjatkan Surah Yasin seusai shalat fardhu untukku di malam menjelang ujian. Bahkan aku juga begitu merindukan saat Kau memarahiku karena lupa merapikan kamar, atau lalai menaruh barang secara sembarang. Teringat jelas ketika Kau menghubungiku hanya karena ingin tahu: sudah seberapa panjang rambutku. Terdengar lucu, tapi ini yang selalu ku tunggu. Perhatian pada hal kecil sebagai tanda bahwa Kau teramat menyayangiku.

Ibu, aku tahu betapa khawatirnya dirimu ketika ku putuskan untuk melanjutkan mimpiku di sini. Aku tahu bahwa Kau menitikkan air mata saat aku berpamitan padamu. Aku tahu bahwa Kau menangis hingga tengah malam di hari pertama aku meninggalkan rumah. Meninggalkanmu, dan jutaan kenangan indah yang telah terukir selama 18 tahun.

Ibu, tenang saja. Tak usah kau risaukan keberadaanku di sini. Meski Kau tak mampu melihatku, mendekapku, dan mengawasiku seperti dulu. Selalu ada Tuhan yang melindungiku, meniti setiap langkahku, dan memudahkan semua jalanku. Aku sudah mampu membedakan mana yang baik untukku dan mana yang harusnya aku hindari. Aku tahu batasan-batasan dalam bergaul –yang dulu selalu Kau katakan-. Sampai saat ini pun aku masih belum berani melanggar perintahmu: untuk tidak menjalin hubungan dengan teman laki-laki. Tenang saja, aku paham bagaimana cara menjaga diri.

Ibu, semoga Kau baik-baik saja di sana. Terima kasih untuk segalanya. Untuk kasih sayang yang begitu luar biasa. Untuk perhatian yang begitu sempurna. Terima kasih, sudah ikhlas mencintaiku: saat Kau belum mengetahui rupaku, saat aku masih satu raga denganmu. Ibu, maaf tak bisa di sisimu saat Kau merayakan hari istimewamu. Sebulan lalu, saat Kau berulang tahun ke-38.

Ibu, aku titipkan rasa rindu ini pada Tuhan. Lewat setiap untaian doa yang kuucap. Kuselipkan namamu di antara waktu ba’da shalat. Katakan padaku kalau rindu ini sudah sampai.

Puteri kecilmu,


Intan Dewiyanti
(ku tulis agar Kau tahu betapa aku merindumu)